Kamis, 04 Juni 2009

BERITA ORANG HILANG

Telah pergi meninggalkan rumah, pada hari rabu kemarin dan sampai sekarang belum kembali, bagi siapa saja yang menemukan harap segera lapor ke SMK BK1 Karanganganyar Kebumen. bagi yang menemukan akan diberi imbalan jasa sepantasnya. Demikian terima kasih

Sabtu, 30 Mei 2009

PENERIMAAN SISWA BARU 2009/2010

Kebutuhan tenaga kerja bidang teknologi dan industri memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang professional dan pengetahuan yang handal untuk menghadapi era globalisasi teknologi dan informasi dewasa ini.

SMK “BINA KARYA” 1 yang berdiri sejak 1 September 1968 siap memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan untuk menjadi Tenaga Kerja Tingkat Menengah yang handal, produktif dan professional sehingga siap bersaing di pasar global.

1.Tahun Pelajaran 2003/2004

· Juara II TEST TOEIC Bahasa Inggris tingkat SMK Wilayah Barat Kabupaten Kebumen.

2.Tahun Pelajaran 2004/2005

· Rangking 4 (empat) dari 10 (sepuluh) besar Lomba Promosi Kompetensi Siswa (PKS) Program Keahlian Teknik Pemesinan.

· Ikut serta dalam Recruitment Calon Tenaga Kerja melalui Bursa Kerja Khusus (BKK) dan telah tersalurkan melalui kerjasama Dunia Usaha dan Dunia Industri.

3.Tahun Pelajaran 2005/2006

· Juara II Promosi Kompetensi Siswa (PKS) Eks Karesidenan Kedu Program Keahlian Teknik Instalasi Listrik.

4.Tahun Pelajaran 2006/2007

§ Juara II Lomba PMR Wira se-Eks Karesidenan Kedu.

5.Tahun Pelajaran 2007/2008

· Juara III Promosi Kompetensi Siswa (PKS) se-Kabupaten Kebumen Program Keahlian Teknik Instalasi Listrik dan Teknik Pemesinan.

6.Selalu aktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan kejuaraan maupun lainnya baik yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta.

Jumlah tenaga pendidik sebanyak 46 orang professional pada bidangnya, terdiri dari Sarjana S1, Sarjana Muda, dan D3 lulusan perguruan tinggi ternama yang ada dewasa ini.

Program Studi Keahlian Teknik Bangunan; Kompetensi Keahlian Teknik Konstruksi Batu dan Beton.

Mempelajari: Perencanaan dan Perhitungan Konstruksi Bangunan.

Kesempatan kerja: Kontraktor, Konsultan, Instansi Pemerintah/Swasta.

1.Program Studi Keahlian Teknik Ketenagalistrikan;

Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik.

Mempelajari: Perencanaan dan Pemasangan Instalasi Listrik, rumah tinggal dan industri.

Kesempatan kerja: Biro Teknik Listrik, PLN, industri dan Instansi Pemerintah/Swasta.

2.Program Studi Keahlian Teknik Mesin; Kompetensi Keahlian Teknik Pemesinan.

Mempelajari: Pengetahuan Dasar Teknik Mesin, Penggunaan Mesin-Mesin Perkakas untuk industri.

Kesempatan kerja: Bengkel-bengkel mesin, industri, Instansi Pemerintah/Swasta.


3.Program Studi Keahlian Teknik Komputer dan Informatika;

Kompetensi Keahlian Multimedia.

Mempelajari: Pembuatan dan editing film, editing foto.

Kesempatan kerja: Biro Periklanan, Stasiun Televisi, Rumah Produksi (Production House).

Visi:

Mencetak Tenaga Tingkat Menengah yang terampil dalam bidang Teknologi dan Industri, Berbudi luhur, Berpengetahuan luas , berjiwa wira usaha

Misi :

1.Tamatan dapat memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional sesuai bidang keahliannya.

2.Tamatan dapat menciptakan lapangan kerja

3.Tamatan mampu mengembangkan karier


Pada Tahun Pelajaran 2008/2009 keadaan siswa SMK Bina Karya 1 adalah sebagai berikut:

TINGKAT

JUMLAH KELAS

JUMLAH

PER TINGKAT

I

10 Kelas

396 Siswa

II

8 Kelas

262 Siswa

III

9 Kelas

285 Siswa

JUMLAH TOTAL

943 Siswa

SMK Bina Karya 1 Karanganyar memiliki fasiitas, antara lain:

· Gedung milik sendiri.

· Bengkel praktik.

· Perpustakaan.

· Bursa Kerja Khusus (BKK).

· Band.

· Laboratorium Komputer yang memadai.

· Fasilitas Internet.

· Fasilitas setir mobil.

pendaftaran dapat dilayani mulai tanggal 29 Juni 2009 Setiap hari kerja, mulai jam 08.00-13.00 WIB, kecuali hari Jum’at Jam 08.00-11.00 WIB.

Tempat Pendaftaran:

SMK Bina Karya 1: Jl. Kartini No. 6 (Utara Alun-Alun Karanganyar) Telp (0287) 551160.

Keterangan lebih lanjut dapat dilihat dan ditanyakan di tempat pendaftaran.

1.Pendaftar datang langsung di tempat pendaftaran dan mengisi formulir pendaftaran.

2.Menyerahkan:

· Foto copy Ijazah SMP/MTs: 2 lembar.

· SKHUN Asli (diutamakan)/salinannya.

· Pas Foto 3 x 4 sebanyak: 4 lembar.

· Foto copy sertifikat kejuaraan: 2 lembar.

· Foto copy raport SMP/MTs dari Kelas I, II, III Semester I dan II.

3.Membayar uang pendaftaran.

4.Umur tidak lebih dari 21 tahun pada awal Tahun Pelajaran 2009/2010.

Minggu, 19 April 2009

WAJAH BARU SMK BINA KARYA 1 KARANGANYAR

TAMPAK DEPAN KANTOR GURU





RUANG KELAS 1 sampai 7








SKETSA LOGO


INTERIOR KANTOR GURU




Senin, 09 Februari 2009

SIAPKAN SISWA DARI SEKARANG MENGHADAPI UN



KEBIJAKAN pemerintah melaksanakan ujian nasional (UN) 2008 sebetulnya menuai protes dari berbagai pihak.

Apalagi dengan menambah porsi mata pelajaran yang diujikan untuk tingkat SLTP dan SLTA serta melaksanakan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional untuk tingkat SD. Namun de-ngan alasan untuk mendapatkan standar pendidikan nasional, UN tetap dilaksanakan.
Karena ada penambahan beban mata uji dan beban nilai baik untuk siswa SMP, SMA maupun ujian untuk tingkat SD Berstandar Nasional, maka UN 2009 harus dipersiapkan sejak dini. Tentu saja, beban dan tanggung jawab siswa, orang tua, guru serta sekolah semakin berat.
Kalau sebelumnya, setiap menghadapi UN, para orang tua sudah disibukkan menambah les privat atau bimbingan belajar yang menjanjikan jaminan lulus, kini jauh lebih berat. Tentunya segala cara ditempuh agar putra-putrinya bisa lulus. Kata “lulus” menjadi target yang didambakan dan dibanggakan baik oleh siswa, orang tua maupun sekolah. Dalam kondisi seperti ini, wajar bila ada yang berani menjanjikan, bila tidak lulus uang kembali atau janji-janji lainnya.
Namun kegelisahan awal ini pada dasarnya bisa disiasati dengan berbagai pola. Pertama mulai dari diri siswa itu sendiri. Kemudian orang tua dan pihak sekolah yang berperan menghantarkan siswa ke jenjang keberhasilan.
Persoalannya, kondisi siswa saat ini, masih kurang menyadari pentingnya membaca, malas belajar, kurang bisa membagi waktu, dan masih banyak yang berkonsentrasi untuk kegiatan lain yang tidak mendukung ke arah berhasilnya UN yang akan datang. Padahal untuk lulus UN, siswa perlu dikondisikan sejak dini agar belajar efektif, memperbanyak waktu membaca, dan belajar tidak hanya sore hari, tetapi juga setiap ada kesempatan.
Kedua diperlukan peran serta orang tua untuk selalu memantau langkah-langkah belajar putra-putrinya. Apakah sudah benar-benar belajar dengan baik dan efektif atau belum. Sempatkan mendampinginya untuk memberikan motivasi. Apabila akan diarahkan ke kegi-atan les, pilihlah guru yang tidak hanya bisa mentransfer ilmunya, tetapi yang bisa memberikan motivasi serta bimbingan belajar yang berkualitas.
Sedangkan pihak sekolah, sudah harus mempersiapkan strategi awal untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan lulus UN. Langkah pertama yang perlu dilakukan, sekolah memberikan jam pelajaran tambahan pagi maupun siang. Tentunya, harus melibatkan guru mata pelajaran yang diujikan. Dengan memberikan mata pelajaran tambahan, hal ini akan mengurangi kesibukan maupun tugas rutin yang dikerjakan di rumah.
Memang dengan memberikan pelajaran tambahan, tidak menutup mata, guru akan mendapat tambahan honor. Namun pertanyaannya, apakah sesuai honor yang didapat dengan pengorbanan yang diberikan ? Tetapi perlu dicermati bahwa honor bukan menjadi satu-satunya tujuan, melainkan perasaan rela berkorban yang didasarkan tuntutan profesi dan keinginan yang besar untuk dapat meluluskan siswanya dalam UN tersebut.
Lalu jurus kedua dengan memberikan “Klinik Mata Pelajaran Ujian Nasional” kepada siswa-nya. Langkah ini bisa dilaksanakan di sela-sela jam pelajaran biasa atau jam istirahat atau setelah jam pelajaran berakhir. Jika tidak ada jam pelajaran tambahan siang hari, bisa juga dilaksanakan sore hari. Melihat jurus kedua ini, tentunya tidak ada waktu yang disia-siakan oleh siswa maupun guru.
Kemudian jurus ketiga yang ditempuh sekolah dalam menghadapi momok UN adalah sebagaimana kita de-ngar, yaitu memberikan try out sesering mungkin. Baik yang dilaksanakan secara intern sekolah, dari Dinas Pendidikan dalam hal ini melalui MGMP dan MKKS maupun memalui kerja sama dengan bimbingan belajar tertentu yang dianggap berkualitas. Hal ini, dengan tidak mengabaikan langkah-langkah drilling oleh guru di kelas. Inipun masih ditambah try out ke sekolah tertentu yang menyelenggarakan kegiatan serupa. Tentu saja hal ini selain membutuhkan kesiapan mental juga menambah pengeluaran orang tua, guna mencukupi biaya les, foto copy, uang saku tambahan dll.
Yang lebih hebat lagi, ada sekolah yang menggunakan mi-nggu-minggu tertentu menjelang ujian untuk “pelajaran khusus” mata pelajaran “UN”. Ini sebagai jurus keempat yang diisi dengan pengayaan materi pelajaran maupun latihan soal-soal ujian. Kembali lagi, guru mata pelajaran yang diujikan tetap disibukkan persiapan UN.
Kendati begitu, jurus-jurus itu baru secara lahiriah, belum batiniahnya. Secara batiniyah, berupa doa menjadi sangat penting. Misalnya doa bersama, setiap pagi hari menjelang ujian. Ada juga yang dilaksanakan malam hari dengan mendatangkan orang tua siswa, kiai atau tokoh ESQ untuk memberikan semangat dan kekuatan batin dalam menghadapi UN tersebut.
Langkah-langkah ini akan memberikan harapan untuk mengurangi kegelisahan yang sering terjadi menjelang UN. Tentunya, semua pihak memiliki peran yang tidak kecil.
Namun harapan siswa untuk bisa lulus, berpulang dari siswanya juga. Karena itu, seorang siswa harus mampu menyadari keberadaannya yang harus senantiasa belajar. Kemudian orang tua mendampinginya dan bersama-sama mencari jalan terbaik bagi keberhasilan anaknya.
Untuk mengatasi kegelisahan ini, mari kita melakukan persiapan sejak dini. Tidak perlu menunggu hingga dekatnya waktu UN. Semoga dengan persiapan awal, akan lebih matang dan UN tidak lagi menjadi momok.

Aturan Ujian Nasional 2009 Berubah



Pemerintah kembali mengubah aturan pelaksanaan Ujian Nasional tahun depan. Selain kenaikan batas minimal kelulusan siswa SMP hingga SMA dan sederajat, pengawasan dan pemeriksaan hasil ujian akan dilakukan oleh perguruan tinggi.

Menurut Koordinator Persiapan Soal Ujian Nasional di Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional Dina Mardati, tiga peraturan Menteri Pendidikan Nasional telah disiapkan. “Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 82 tahun 2008 untuk ujian SD, nomor 77 tahun 2008 untuk Ujian Nasional SMA, dan nomor 78 untuk ujian SMP hingga SMK sederajat, “ katanya di Bandung, Senin (22/12).

Menurut Dina, sedikitnya ada tiga perubahan penting Ujian Nasional 2009 untuk tingkat SMP hingga SMA/ SMK sederajat. Yang pertama soal angka kelulusan. Untuk SMP, SMA, dan SMK, angka rata-rata minimal agar siswa dinyatakan lulus adalah 5,5 dari seluruh mata pelajaran Ujian Nasional. Siswa yang mendapat angka empat di dua mata pelajaran masih bisa lulus asal nilai rata-rata mata pelajaran lainnya berjumlah minimal 4,25. “Khusus untuk siswa SMK, nilai pelajaran kompetensi kejuruannya minimal harus berangka tujuh,” ujar Dina.

Sebelumnya, pada 2008, angka kelulusan siswa tersebut rata-rata 5,25. Syarat kelulusan tambahan yang baru, katanya, sekaligus menghapus aturan sebelumnya yang membingungkan. “Dulu kan ada dua opsi kelulusan, sekarang hanya satu,” katanya. Dua opsi itu diantaranya siswa bisa lulus jika ada angka empat di salah satu mata pelajaran namun nilai mata pelajaran lainnya minimal harus berangka enam.

Perubahan kedua menyangkut pengawasan ujian. Jika pada tahun sebelumnya hanya diserahkan ke pemerintah daerah, menurut Dina, pada 2009 pemerintah akan melibatkan perguruan tinggi untuk pengawasan. “Jadi lebih kredibel,” ujarnya. Penanggung jawab berada di tangan Gubernur dan Koordinator Perguruan Tinggi.

Pemerintah akan menunjuk sebuah perguruan tinggi negeri di tiap provinsi untuk menjadi koordinator pengawas ujian. Tenaga pengawas di lapangan sendiri, kata Dina, tetap dilakukan oleh para guru. Perubahan ini untuk merintis hasil ujian nasional yang akan datang sebagai syarat masuk Perguruan Tinggi Negeri. Pemerintah juga mengubah tata cara pemeriksaan Lembar Jawaban Ujian Nasional. “Pemeriksanya nanti juga dari perguruan tinggi,” katanya. Namun dia mengelak upaya ini sebagai bentuk ketidakpuasan pemerintah terhadap pihak pemeriksa ujian sebelumnya.

Menjelang pelaksaan Ujian Nasional, katanya, Dinas Pendidikan telah mengeluarkan kisi-kisi kepada para guru. Soal ujian sendiri masih dibuat seluruhnya oleh Pusat Penilaian Pendidikan. Sementara untuk siswa Sekolah Dasar dan madarasah setingkat, aturan ujian kelulusannya tidak ada perubahan. Pelaksanaan tetap dilakukan pemerintah daerah dan sekolah.

ANWAR SISWADI

SERTIFIKASI GURU LAYAK DIPERTANYAKAN



Sertifikasi guru… “ada apa” dibalik semua itu, “untuk apa” sebenarnya itu. Jawaban miringnya adalah untuk membuka lahan konspirasi baru di dunia pendidikan guna memper-daya-i guru yg selama ini sudah tak berdaya. Pertentangan kesempatan untuk mengikuti uji sertifikasi adalah masalah awal yg mesti diantisipasi karena sertifikasi ini tidak dilakukan secara serempak, tetepi bertahap. Lagi-lagi senioritas-lah yg akan dijadikan pertimbangan. Senioritas berdasar masa kerja tentunya.

Sertifikasi merupakan penentu tingkat penghasilan seorang guru, maka ia-pun akan rela diperdayai oleh oknum2 yg terlibat dalam kegiatan pen-sertifi-kasian demi naiknya penghasilan bulanan-nya, seperti hal lain yang saya tulis sebelumnya. Nah lhooo…

Saya tidak tahu manakah yg lebih dulu dijadikan pertimbangan dilakukannya program sertifikasi ini. Apakah demi peningkatan kualitas guru dengan penyaringan tingkat keprofesionalan guru, atau karena akan ditingkatnya gaji guru cuma tidak mau dikasihkan begitu saja jadi mesti dilakukan ujian sertifikasi. Kalau seperti yg terakhir itu, maka sertifikasi merupakan sarana “sedikit mempersulit” dalam peningkatan kesejahteraan guru sehingga tidak boros pengeluaran negara. Bagus juga sih.

Banyak pihak yg sekepstis dengan dilakukannya sertifikasi tingkat keprofesionalan guru. Apalagi kalo tidak masalah sogok-menyogok demi selembar sertifikat yg sakti yang mampu meningkatkan pendapatan guru. Oleh karena itu banyak hal yg semestinya dipersiapkan baik hal bersifat teknis dan non teknis, termasuk kesiapan penguji dari sisi moral. Sebab sulit untuk mendapatkan orang yang bener2 bisa dipercaya.

Maka kitapun mesti sudah siap akan kecewa terhadap pelaksanaan sertifikasi guru ini. Sebab sudah demikian parahnya kegiatan2 yg sering memperdayai guru. Yah pendidikan memang mahal dan perlu banyak pengorbanan, hehehe tapi berdasarkan jumlah anggaran di APBN kok sepertinya pendidikan kita terlihat murahan-nya. Itupun pasti bocor ditengah perjalanan untuk menuju kualitas yg diidam-idamkan.